Senin, 12 Februari 2018

Jakarta kondusif untuk Startup (berkembang) ?



Pemberitaan mengenai World's 10 best cities for digital companies dari Statista muncul di Jakarta Post (http://www.thejakartapost.com/news/2018/02/10/jakarta-conducive-to-startups.html), dimana Jakarta menjadi urutan ke 8 dari kota yang kondusif untuk perusahaan startup.
Berita ini melegakan, karena artinya Jakarta bisa memberikan iklim atau ekosistem untuk perusahaan startup bermunculan. Perusahaan startup yang umumnya adalah perusahaan atau usaha kecil, dikembangkan atas ide-ide untuk menjawab permasalahan yang muncul, dengan bisnis model yang unik, dan umumnya merupakan perusahaan digital.
Semua ini searah dengan target pemerintah untuk menjadi negara ekonomi digital di tahun 2020. Dan target ini harus dikejar bersama, tidak hanya pemerintah. Dengan kemudahan proses menjadi pengusaha, para entrepreneur muda bermunculan dan mengklaim diri mereka menjadi startup.
Produk, solusi inovatif mereka umumnya menggunakan teknologi dan berkaitan erat dengan dunia digital. Oleh karena itu, infrastruktur Internet (dan TIK) menjadi sangat penting untuk mendorong dan mendukung perkembangan para startup ini. Para perusahaan startup ini umumnya memilih area kerja bersama (co-working space) menjadi tempat mereka bertumbuh. Selain karena disana berkumpulnya banyak usaha sejenis, mereka juga bisa saling berkolaborasi dan saling menguatkan. Biaya untuk infrastruktur Internet dan kebutuhan lainnya bisa ditekan dengan menggunakan konsep co-working space ini.

Tantangan berikutnya adalah sumber daya manusia. Semua perusahaan digital pasti perlu programmer, atau teknisi. Dan ini yang menjadi tugas berat bersama kita. Tidak sedikit kami mendengar komplain ini. Sebut saja salah satu perusahaan startup yang telah cukup lama, mereka mengambil resource programmer dari salah satu universitas IT terkemuka di Indonesia. 30 Orang direkrut dalam proses pemagangan, tapi akhirnya hanya 3 orang yang bertahan menjadi karyawan, dan dalam setahun sisa 1 orang. Kebutuhan SDM programmer memang sangat tinggi, dan bergerak sangat cepat.
Masalahnya adalah apakah dunia pendidikan kita memang mempersiapkan mereka menjadi programmer ? Kebutuhan industri terkait programmer sangat tinggi, tapi apa yang diajarkan di kampus dan sekolah kurang sesuai dengan kebutuhan industri. Sebut saja, mereka belajar PHP, tapi kenyataannya harus menguasai Java dan DotNet. Semua ini perlu diarahkan, dan kembali seyogyanya kebutuhan industri yang menjadi acuan.
Untuk itulah KPTIK (Komite Penyelarasan TIK) ada. Memberikan masukan dan arahan kepada dunia pendidikan Indonesia terkait dengan kebutuhan industri, terkait dengan TIK (teknologi informasi dan komunikasi). Kemudian apakah selama ini KPTIK didengar ? apakah selama ini KPTIK bisa memberikan masukan yang ampuh ?
Tidak semua mendengar masukan dari KPTIK, dan masih 'asyik' dengan dunianya sendiri. SKKNI , KKNI , LSP, apapun itu tidak bisa menghasilkan SDM yang diperlukan industri. Kembali vokasi digaungkan dengan melibatkan industri. Semua kembali kepada kebutuhan industri. Tapi menggabungkan dan melakukan sinkronisasi semua ini tidak mudah.
Jadi meskipun kita bangga, Jakarta telah dijadikan salah satu kota 'ramah' startup, dan startup bisa bermunculan. Tapi hampir 60% mati karena kesulitan mendapatkan SDM programmer dan mengembangkan dirinya. Sisanya bisa bertahan karena mampu menggaji programmer 'mahal' yang selalu loncat kesana-kesini karena tingginya perebutan SDM programmer Indonesia.
Ayo bersama rapatkan barisan, kita harus tetap semangat membina SDM TIK Indonesia. #SaveSDMTIK
**APTIKNAS adalah salah satu anggota KPTIK

0 komentar:

Posting Komentar