Strategi 2026: Transformasi Digital di Indonesia, bukan sekedar digitalisasi
Digital Transformation ≠ Digitalisasi: Kesalahan Paling Mahal Perusahaan
Tidak terasa, sudah Dua tahun ini menulis di newsletter ini. Tiap pagi saya berusaha menemukan ide Dan tema menarik untuk dibagikan, selain Dari kegiatan rutin dalam bentuk webinar, seminar yang terus saya lakukan sejak 2016. Dan 3 tahun belakangan ini, saya cenderung mengangkat tema Digital Transformation Captain, karena saya percaya, transformasi digital bukan soal sistem, bukan soal teknologi, tapi justru adalah orangnya, leadernya, inilah mereka yang saya sebut sebagai "captain".
Banyak organisasi merasa sudah melakukan transformasi digital. Mereka mengganti proses manual dengan aplikasi, memindahkan server ke cloud, membeli software terbaru, bahkan mulai bicara AI. Namun anehnya, hasil bisnis tidak banyak berubah. Biaya IT naik, kompleksitas bertambah, tapi kecepatan, efisiensi, dan kualitas keputusan tetap sama.
Masalahnya bukan pada teknologinya. Masalahnya ada pada kesalahan memahami arti transformasi digital.
Digitalisasi Itu Perlu, Tapi Tidak Cukup
Digitalisasi adalah langkah awal yang penting. Mengubah kertas menjadi sistem, spreadsheet menjadi aplikasi, atau proses manual menjadi workflow digital memang diperlukan. Tanpa digitalisasi, organisasi tidak akan pernah siap melangkah lebih jauh.
Namun digitalisasi hanya memindahkan proses lama ke media baru.
Jika prosesnya tidak efisien sejak awal, maka digitalisasi hanya membuat ketidakefisienan itu berjalan lebih cepat dan lebih mahal. Inilah yang sering terjadi:
“Kita sudah pakai sistem, tapi kok ribet?”
Jawabannya sederhana: karena yang diubah hanya alatnya, bukan cara berpikir dan cara bekerja.
Transformasi Digital Itu Soal Nilai, Bukan Tools
Transformasi digital bukan tentang:
- software apa yang dipakai
- vendor mana yang paling canggih
- cloud publik atau on-premise
Transformasi digital adalah tentang bagaimana organisasi menciptakan nilai dengan cara yang berbeda menggunakan teknologi.
Pertanyaannya bukan:
“Sistem apa yang harus kita beli?”
Melainkan:
“Keputusan apa yang ingin kita buat lebih cepat, lebih tepat, dan lebih berdampak?”
Tanpa pertanyaan ini, teknologi hanya menjadi biaya operasional, bukan pengungkit bisnis.
Kesalahan Paling Mahal: Merasa Sudah Bertransformasi
Kesalahan terbesar bukan gagal melakukan transformasi digital. Kesalahan paling mahal adalah merasa sudah bertransformasi padahal belum.
Akibatnya:
- organisasi berhenti berbenah
- manajemen merasa masalahnya ada di user atau SDM
- setiap solusi baru dianggap “nanti saja” karena “kita sudah punya sistem”
Padahal yang ada hanyalah digitalisasi setengah matang.
Ciri Organisasi yang Hanya Digitalisasi
Dari pengalaman lapangan, organisasi yang hanya melakukan digitalisasi biasanya memiliki ciri berikut:
- IT sibuk, bisnis bingung Banyak sistem berjalan, tapi manajemen kesulitan melihat gambaran besar.
- Data banyak, insight sedikit Laporan ada di mana-mana, tapi keputusan tetap berdasarkan intuisi.
- Perubahan selalu ditakuti Setiap upgrade dianggap risiko, bukan peluang.
- Transformasi dianggap proyek Ada awal dan akhir, bukan proses berkelanjutan.
Ciri Organisasi yang Benar-Benar Bertransformasi
Sebaliknya, organisasi yang menjalani transformasi digital memiliki pola berbeda:
- Teknologi mengikuti strategi, bukan sebaliknya
- Data dipakai untuk keputusan, bukan hanya laporan
- Monitoring dan early warning menjadi kebiasaan
- IT dan bisnis berbicara bahasa yang sama
- Pemimpin terlibat, bukan hanya menyetujui anggaran
Perbedaannya bukan pada besar kecilnya investasi, tetapi pada kedewasaan berpikir.
Transformasi Digital Selalu Dimulai dari Kepemimpinan
Tidak ada transformasi digital tanpa transformasi cara memimpin.
Selama teknologi dianggap urusan IT:
- transformasi akan berhenti di dashboard
- AI akan berhenti di demo saja
- cloud akan berhenti di tagihan
Di sinilah peran Digital Transformation Captain menjadi penting—seseorang yang:
- memahami teknologi dan bisnis
- berani menantang cara lama
- fokus pada nilai, bukan tren
Bukan sekadar mengelola sistem, tetapi mengemudikan perubahan.
Penutup: Pertanyaan yang Perlu Dijawab Jujur
Sebelum bicara AI, automation, atau platform baru, ada satu pertanyaan sederhana yang perlu dijawab secara jujur:
Apakah organisasi kita sedang bertransformasi, atau hanya mendigitalisasi masalah lama?
Jika jawabannya belum jelas, itu bukan kegagalan. Justru itu titik awal transformasi yang sebenarnya.
Karena transformasi digital bukan tentang terlihat modern— melainkan tentang menjadi relevan, adaptif, dan bernilai di dunia yang terus berubah.
Sudah siapkah Anda ?
Silahkan bergabung dalam newsletter : https://www.linkedin.com/newsletters/digital-transformation-captain-6962936298374389760/
Fanky Christian / Sekjen APTIKNAS 2022-2027